Langsung ke konten utama

Postingan

Sampai jumpa kembali...!

Alhamdulillah, saya patut bersyukur bahwa selama saya masuk di dunia kerja, saya bertemu dengan para atasan langsung yang luar biasa. Dedikasi dan kapabilitasnya sungguh sangat menginspirasi saya. Namun sebagaimana statistik, selalu saja ada pencilan. Harap dimaklumi.  Wawasan saya tentang atasan paling baik hanya terbatas pada Bu Evi Karmilah. Beliau adalah seorang veteran di bidang migas. Kalau tak salah dari pertama penempatan sampai jadi Kasi, beliau selalu di migas. Bukti kehebatan beliau adalah, beliau lah yang merancang hampir semua kertas kerja migas sampai akhirnya dilakukan penyesuaian oleh veteran lainnya, yaitu mas Yudi. Hidup yang terus bergerak maju akhirnya mengharuskan saya menembus batasan wawasan saya. Ternyata ada Kasi yang lebih hebat dari Bu Evi. Jika saja beliau mempunyai waktu yang sama dengan Bu Evi, saya yakin pengetahuan beliau akan melampaui Bu Evi. Tipe bekerjanya mirip, kecepatan pemahaman akan hal baru sangat cepat, biarpun tidak sampai sedetil Bu Evi....

Duh alah si Angin

Air adalah media yang tepat untuk menyembuhkan. Pak Sobri si orang pintar itu selalu memakai air sebagai media penyembuhannya. Doa-doa yang dilantunkannya akan diserap oleh molekul-molekul air, sehingga saat air pemberian Pak Sobri diminum, pasien akan berangsur sembuh karena doa-doa yang dipanjatkan dengan tulus menyatu ke dalam sel-sel pasien. Sel yang sakit akan menarik molekul air doa lebih banyak.  Tubuh memang seperti itu, mempunyai caranya sendiri untuk tetap hidup. Namun kali ini Pak Sobri bingung. Pasiennya adalah Angin. Bagaimanapun Angin adalah momok paling serius di tubuh manusia. Jika seseorang sudah kena angin, dia harus jadi pintar dulu untuk sembuh. Air doa Pak Sobri tidak akan berhasil kalau orang itu belum pintar. Jika sudah betah dia di tubuh manusia, angin akan memaksa untuk duduk.  Sungguh celaka si Angin ini. Memangnya seberapa parah sakitnya? Ini ancaman serius. Dia minta diobati dengan media lautan! Pak Sobri harus pintar-pintar memilih lauta...

Terima kasih, sungguh

  Aku adalah makhluk kenangan. Aku masih ingat syahdunya angin di pinggiran Mookervart di Kalideres. Sukar kali aku menyalakan rokok di sana. Namun, saat rokok itu menyala, satu hisapan, tahan sebentar, hempaskan. Fiuuh... Lega rasanya... Untuk sesaat. Maka akan kuulangi lagi perbuatan itu, sampai bosan kumenghisap, atau sampai kretekku habis. Lalu aku kan kembali lagi, merasakan kekosongan di tengah bisingnya truk tronton, klakson angkot, deru bis kota, dan kebisingan yang hanya ada di kepalaku. "Akan kemana kalian pergi kawan? Aku ikut, kalau boleh."   "Masih adakah tempat untukku, kawan? Di mana saja, asal aku ikut." Terang saja, tidak akan kudengar jawaban dari mereka, karena pertanyaan itu hanya ada di kepalaku. Tak sampai meluncur keluar dari mulutku yang biasanya lancar sekali meracau.   "Kawan, sampai jumpa lagi. Hubungi aku. Kalian tau aku makhluk setia, dan naif. Nomorku tak kan kuganti. Aku siap mendengar semua cerita kalian" .....  Aku telah...

Pertanyaan Itu Dimulai Juga

Saya selalu merasa tertarik mengenai hal yang berhubungan dengan angkasa luar. Bahasan tentang hal tersebut akan membawa kita kepada berbagai macam teori alam semesta yg belum terpecahkan. Seru sekali, dan saya mencoba untuk memberitahukan keseruan itu kepada Mariana. Saya pernah mencobanya dengan menawarinya sebuah buku. Dia tak tertarik. Saya memberikan sebuah gambar. Tak tertarik juga. Video alam semesta di Youtube. Tertarik sedikit. Dia tertarik dengan perbandingan besaran planet bumi dengan bintang raksasa di alam semesta yang berhasil manusia temukan sejauh ini. Saya kira saya sudah berhasil menggugah keingintahuannya tentang angkasa luar dan alam semesta, namun saya salah. Setelah video itu tidak ada pertanyaan lanjutan. Sampai kemudian dia menonton petualangan Doraemon kemarin siang. Ceritanya doraemon, bersama nobita, shizuka, giant, dan suneo, tentunya, menjelajah waktu ke masa saat bumi berada pada zaman es. Tumben, mariana mau menonton petualangan doraemon sampai habis. ...

Dua proyek

Sejauh ini kami sudah meluncurkan dua proyek pemesanan makanan, yaitu pempek dan kue nastar. Untuk pempek sudah kami luncurkan sejak Januari tahun lalu, sementara kue nastar kami luncurkan di bulan Ramadan ini. Kami patut bersyukur, respon di kedua proyek tersebut sangat baik. Mereka yang sudah membeli memberikan penilaian yang sangat baik dengan rasanya. Sebenarnya, soal rasa adalah murni penilaian dari para pembeli. Sebuah pariwara kecap mengatakan kalau rasa tidak pernah bohong. Kalau memang enak dari sananya, yasudah, enaklah dia. Biarpun kami sebagai penjual mengklaim rasanya enak, kalau belum dicap oleh lidah, maka klaim hanya sekadar klaim , tidak berarti apa-apa. Begitu kira-kira. Yang ingin kami tekankan sebenarnya biarlah soal rasa menjadi ranah pembeli. Kami tidak bisa memaksa, tidak bisa mengontrol penilaian. Ranah kami, adalah hal yang bisa kami kontrol. Bahan dan harga . Kali ini kami akan menjelaskan bagaimana kebijakan bahan yang kami gunakan. Sement...

Engkaulah Matahariku

Melalui tanaman, saya jadi paham betapa gombalan seseorang yang mengatakan "dirimu sangat berarti bagiku. Kau bagaikan matahari dengan cahayanya", sangat relevan dengan keadaan yang sebenarnya. Kangkung etiolasi Di gambar pertama, saya menanam kangkung hanya di teras rumah, yang tidak terpapar matahari langsung. Hasilnya, kangkung mengalami etiolasi, atau kutilang. Batang kangkung tumbuh dengan cepat, namun tidak bisa gemuk, daunnya pun tidak lebar seperti kangkung yang kita lihat di pasar. Makanya disebut kutilang yang merupakan singkatan dari kurus, tinggi, langsing. Kangkung normal Pada gambar kedua, saya menanam kangkung dengan menggantungnya di pagar supaya terkena sinar matahari langsung, paling tidak dari waktu syuruk sampai sesaat sebelum azan zuhur. Bisa dikatakan hasilnya signifikan. Daun kangkung lebih lebar dari gambar pertama. Padahal, waktu tanamnya lebih duluan yang gambar pertama. Jamur yang kemudian mati Selanjutnya, dari gambar ketig...

Siapa yang tahu, hati Mariana?

Yang aku takutkan, adalah ketika aku meninggalkan anakku dengan kesepian Siapa yang mampu membunuh kesepian? Bahkan kami telah berusaha berkali-kali, mendatangkan seorang teman Harapan muncul, tiga kali Namun tenggelam, juga tiga kali Jika tidak diakhiri, akan berapa kali lagi, entah... Aku juga pernah di posisi anakku, namun aku orang yang beruntung Aku bertetangga dengan sepupuku Kami saling mendukung, tidak ada yang merundung Istriku lebih dapat menemukan kebahagiaan dalam kesendirian Sementara aku, tak lebih dari seorang yang selalu beruntung Beritahu aku, apakah uang dapat membunuh kesepian? Akan kuusahakan jika bisa, dengan cara apa, entah... Sebagai manusia, aku tahu berapa dalamnya Palung Mariana Namun, sebagai manusia siapa yang tahu isi hati Mariana?