Langsung ke konten utama

Dulu, Tentu Lain Sekarang

Dulu, jika ditanya soal kesiapan kami—aku dan istriku—menikah, akan aku jawab dengan yakin bahwa aku siap. Siapkah kalian untuk menikah? Siapkah kalian dengan hal-hal yang akan kalian hadapi dalam pernikahan nanti? Siapkah dengan tanggung jawab yang lebih besar? Ya, kami siap. Aku siap, dia pun siap. Aku berkata dalam hati, aku yakin. Aku telah siap. Apapun yang akan terjadi nanti, akan aku hadapi, terlebih lagi tak ada kata aku dalam pernikahan nanti. Yang ada adalah kata kami. Bukan tentang aku atau kamu lagi, yang ada adalah kami. Bagaimanapun keadaan kami nanti, kami siap! Jangan tanya kami tentang kesiapan kami menghadapi badai. Semenit lagi datang pun kami siap! Akan kami hadapi badai itu.

Sudah siapkah kalian menjadi orang tua? Sudah siapkah kalian mendidik buah hati kalian? Dengan tegas calon istriku—yang kini telah menjadi istriku—menjawab siap. Insya Allah saya siap. Bagaimana dengan jawabanku? Sudah siapkah aku menjadi ayah? Sudah siapkah aku  menggendong anakku? Menimang anakku? Oohh.. apakah aku siap? Bagaimana kalau ditunda saja keinginan memiliki anaknya? Pada waktu itu, aku menjawab sekenanya. “ya, siap”

Hingga beberapa bulan kami menikah, aku masih belum mempunyai kesiapan untuk memiliki anak. Aku masih berpikir, yah biarlah mengalir saja. Kalau dikasih Alhamdulillah, belum dikasih ya Alhamdulillah juga..

Kemudian, dalam usia pernikahan kami yang memasuki bulan ketiga istriku hamil. Dia senang bukan kepalang, aku pun ikut senang karena istriku senang. Aku senang untuknya, bukan untuk diriku sendiri. Sebagai seorang suami yang istrinya sedang hamil, maka aku pun merawat istriku, memperhatikan istriku, bagaimanakah harinya di sekolah, merasa pusingkah waktu mengajar? Sudah minum vitaminnya belum? Kau tahu, pada saat ini aku menikmati masa-masa menjadi seorang suami yang  akan menjadi ayah, aku berdoa agar kandungan istriku sehat, istriku juga sehat.

Alangkah senangnya aku! Hahaha. Aku melihat gambar calon anakku di layar monitor USG sang dokter. Di klinik itu, aku mendeklarasikan diriku sebagai seseorang yang akan menjadi ayah.

Tapi waktu itu kejadiannya begitu cepat. Malam itu, istriku mengalami flek. Aku masih berpikiran positif, itu adalah kejadian biasa. Plasenta sedang menempel pada dinding rahim, jadi wajar kalau ada flek. Kami pun pergi tidur.

Esoknya, flek istriku semakin parah. Ini bukan hanya flek, ini perdarahan. Oh, apa yang sudah kulakukan? Apakah ini salahku? Aku memarahi istriku sebelum dia mengalami flek hingga akhirnya perdarahan seperti ini. Kami tak ingin membuang waktu, kami segera pergi ke rumah sakit walau kami tak punya duit. Setelah diperiksa sang dokter, istriku diberi obat yang katanya lebih paten. Harganya sungguh tak kupedulikan. Kami pun pulang. Di kontrakan kami, sudah ada mertuaku dan kakak iparku menunggu. Hari itu kami memang berencana ingin pergi ke tanah abang, mengajak adikku membeli mukenah, kalau sempat kami juga akan menghadairi resepsi pernikahan teman SMP-ku. Namun dengan peristiwa seperti ini, biar aku sajalah yang pergi. Biar aku menemui adikku yang sedang ngambek. Biar aku yang menjelaskan lalu aku akan menghadiri resepsi pernikahan temanku.

Malam itu, aku pulang dengan terburu-buru. Istriku terdengar lemas dari ujung sambungan telepon sana. Saat sampai di rumah kontrakan kami, ibu mertuaku yang menyambutku. Aku tidak menghiraukannya. Aku langsung ingin menemui istriku. Dia tersenyum padaku, “Maaf...” katanya lirih. Aku memegang perutnya, lalu mengusapnya. Istriku mengalami keguguran, dan dia menyesal. Dia sudah berusaha menahannya, namun karena rasa sakitnya dia merelakan calon bayi kami. Aku mengusap keningnya, lalu menciumnya. Pantaskah dia yang meminta maaf kepadaku? Aku hanya dapat terdiam memandangnya. Terasa penyesalan dalam dadaku, akulah penyebabnya. Sebab aku yang memarahinya pada malam sebelum kejadian ini. Sebab aku yang merasa tidak siap. Sebab aku yang awalnya tidak menantikan kehadirannya. Sebab aku menyepelekan sebuah arti tanggung jawab.


Aku memang sudah sadar sepenuhnya bahwa hidup tidak akan selalu indah, bahwa hidup tidak selalu mudah. Namun, hidup memang penuh kejutan, biarpun kau telah tersadar, kau akan tetap terkejut akan ujian yang diberikan oleh Sang Pemilik Hidup. Syukurilah hidupmu, jika ujian ini tidak datang kepadamu. Banggalah kepada dirimu, jika ujian yang diberikan kepadamu lebih berat dari ini. Setelah kau lulus nanti, kau akan merasakan nikmatnya. Ingatlah bahwasanya selalu ada kemudahan setelah kesulitan, bahwasanya tidak akan diberikan suatu ujian kepadamu melebihi kemampuanmu. Berbesarhatilah. Janji Alloh SWT adalah sebenar-benarnya janji.

Komentar

Postingan populer dari blog ini

Ujian layaknya sebuah film

Saya sudah sering tahu kalau anak saya bakal ujian. Reaksi saya selalu "all is well", saya selalu yakin anak saya bisa melalui semua ujian di sekolah, karena tentu saja istri saya sudah menjadi fasilitator ulung bagi Si Palung. Masalahnya, kali ini saya harus menontonnya ujian langsung. Saya harus menonton anak saya berhadapan dengan gurunya, untuk menunjukkan seberapa hapalnya dia dengan Juz 30. Ujian tasmi' istilahnya.  Dalam sebuah film, selalu ada bagian mengenai hal apa saja yang menjadi latar belakang konflik. Pada bagian ini, penonton masih bisa santai. Selanjutnya, sebelum bagian latar belakang ini masuk ke segmen konfliknya, penonton akan disuguhkan dengan adegan-adegan yang bisa jadi mendebarkan, atau bisa jadi bikin kesal, sampai-sampai kalau bisa skip aja nonton bagian ini. Langsung aja ke inti konfliknya, ke bagian paling seru. Nah, pengalaman menonton ujian ini, buat aaya serupa nonton film. Di surat-surat awal anak saya lancar saja melantunkan hapalannya. L...

Sampai jumpa kembali...!

Alhamdulillah, saya patut bersyukur bahwa selama saya masuk di dunia kerja, saya bertemu dengan para atasan langsung yang luar biasa. Dedikasi dan kapabilitasnya sungguh sangat menginspirasi saya. Namun sebagaimana statistik, selalu saja ada pencilan. Harap dimaklumi.  Wawasan saya tentang atasan paling baik hanya terbatas pada Bu Evi Karmilah. Beliau adalah seorang veteran di bidang migas. Kalau tak salah dari pertama penempatan sampai jadi Kasi, beliau selalu di migas. Bukti kehebatan beliau adalah, beliau lah yang merancang hampir semua kertas kerja migas sampai akhirnya dilakukan penyesuaian oleh veteran lainnya, yaitu mas Yudi. Hidup yang terus bergerak maju akhirnya mengharuskan saya menembus batasan wawasan saya. Ternyata ada Kasi yang lebih hebat dari Bu Evi. Jika saja beliau mempunyai waktu yang sama dengan Bu Evi, saya yakin pengetahuan beliau akan melampaui Bu Evi. Tipe bekerjanya mirip, kecepatan pemahaman akan hal baru sangat cepat, biarpun tidak sampai sedetil Bu Evi....

Bisa-bisanya Dia Begitu

Bisa-bisanya aku tak dipilih olehnya. Padahal dalam banyak hal aku ini unggul. Dia malah pilih yang lebih muda darinya, badboy gadungan, tukang contek, dan tidak lebih tampan dariku.  Untuk urusan umur, boleh jadi aku dan laki-laki itu sama mudanya. Dari orang-orang seangkatanku, aku ini setahun lebih muda. Aku terlalu cepat masuk SD setahun. Kenyataannya, laki-laki itu hanya berada satu tingkat di bawahku. Kalau memakai standar umur normal, aku harusnya sekelas dengan lelaki itu. Oh, boleh jadi laki itu juga lebih cepat masuk SD setahun. Alah, dari mukanya tidak mungkin! Bahkan secara tampilan muka dia terlihat lebih tua dariku.  Urusan badboy silakan tentukan, lebih badboy mana antara anggota ekskul futsal dan anggota ekskul band? Orang bermain futsal itu untuk olahraga, badannya pada sehat, larinya kuat. Untuk lebih kuat lari lagi, sudah barang tentu mereka tidak merokok. Bandingkan dengan aku yang anak band. Bandku ini dibentuk untuk memberontak dan mendobrak nilai-nilai m...