Langsung ke konten utama

Survei Perumahan di Parung Panjang

Parung panjang – saya awalnya sama sekali tidak tahu apa-apa mengenai parung panjang. Saya
hanya familiar dengan kata parung yang katanya sudah dekat daerah puncak. Itupun cuma familiar
dengan namanya saja, saya sendiri juga belum pernah ke parung.

Jadi, awal perkenalan saya dengan parung panjang adalah ketika kami, saya dengan istri, sedang
mencari rumah untuk keluarga kami. Pilihan mencari perumahan sebenarnya kami awali dengan daerah Depok-Bogor. Karena banyak teman kantor yang punya rumah di daerah sana, dan memang saat itu, bahkan hingga sekarang ini daerah Depok-Bogor masih menjadi primadona untuk hunian keluarga baru. Selain itu, masalah harga juga menjadi pertimbangan kami. Karena jika melalui skema KPR, kami hanya mampu membeli rumah dengan harga tak lebih dari 210 juta.

Pertimbangan selanjutnya bagi kami adalah moda transportasi menuju kantor. Kami ingin agar kami
bisa menggunakan kereta komuter, karena untuk jarak jauh tentunya moda transportasi inilah yang
paling efisien. Asal tahu saja, saat ini tidak mungkin kita dapat memiliki rumah baru yang dekat dengan pusat kota Jakarta dengan harga 210 juta. Kalaupun ada, itu mungkin terletak di gang dan hanya sepetak.

Baiklah, dari alasan di atas, memang tidak salah jika kami mengawali pencarian kami ke daerah
Depok-Bogor, dan saat itu, radar kami untuk perumahan daerah Depok-Bogorr mengarah ke daerah
Citayam. Saya mendengar dari teman kantor bahwa daerah citayam sedang booming dan lagi, harga
masih bisa kami jangkau.

Saat survei lapangan, ternyata perumahan yang kami inginkan letaknya sangat jauh dari stasiun, dan
itu pun masih nambah ojek lagi. Saat saya tanya masalah pasar pun ternyata jaraknya juga jauh,
kata-kata dalam brosur pun seakan hanya jadi pajangan. maka, jadilah kami mencoret perumahan
tersebut dari daftar kami.

Pencarian kami lanjutkan pula ke daerah Bojong Gede, daerahnya memang masih banyak
perkampungan, masih banyak tanah kosong disana yang mungkin bakal jadi perumahan seperti di
daerah citayam. Namun tak dinyana ternyata memang butuh usaha lebih untuk mencari perumahan. Kami tentu saja harus mengunjungi beberapa perumahan untuk bertanya-tanya mengingat pemasaran perumahan-perumahan di sana masih sangat kurang di internet.

Ya, itulah yang kami tidak punya. Informasi awal yang kami inginkan dari perumahan-perumahan
tersebut bisa dikatakan tidak ada. Ditambah lagi, kami hanya punya kendaraan roda dua yang jika
kami gunakan untuk survei, sangat tidak memungkinkan karena kami harus naik motor dari
perbatasan antara Tangerang dan Jakarta Barat ke daerah Depok-Bogor.

Sebenarnya bisa saja istri saya naik kereta, kemudian saya naik motor. Namun karena alasan falsafah
hidup kami bahwa tidak perlu terlalu ngoyo, dan kenyataan bahwa istri saya saat itu sudah hamil
tua, maka survei perumahan untuk sementara kami berhentikan dulu. Kami akan mencari lagi lain
kali.


Survei perumahan selanjutnya

Kami meninggalkan daerah depok-bogor untuk survei perumahan. Kali ini kami mencoba survei ke
daerah yang sebenarnya lebih dekat dari tempat tinggal kami sekarang daripada depok-bogor. Kali ini kami survei ke daerah utara Kota Tangerang, lebih tepatnya di daerah Sepatan. Kami memang
tidak menjadikan Sepatan prioritas kami karena, walaupun secara radius letaknya tidak terlalu jauh
dari pusat kota jakarta, kendaraan umum di sana belum terlalu memadai, karena hanya beroperasi
sampai habis maghrib sebelum isya. Namun demi keluarga tercinta, saya pun berangkat survei
sendirian.

Soal survei di Sepatan, saya mengawali dengan berselancar di internet mengenai informasi awal.
Barulah saya mengunjungi lokasinya. Saya mengawalinya dengan berkunjung ke perumahan
bersubsidi. Sebenarnya, jika menurut ketentuan yang saya baca, saya tidak dapat membeli rumah
bersubsidi karena gaji saya saat itu sudah melampaui batas yang ditetapkan, tapi toh coba saja
dululah siapa tahu bisa kan.

Setelah saya mengitari beberapa perumahan bersubsidi, kesan yang saya dapat adalah, bangunan
dengan kualitas fasilitas seadanya. Yang penting rumah jadi, ada dinding, ada atap, ada jalan.
Soal jalan ini, semua perumahan bersubsidi yang sudah ditinggali, jalannya sudah rusak. Aspalnya
sudah pada bolong. Pengembangnya masa bodoh, penghuninya pun mungkin tidak mampu
mengadakan iuran untuk memperbaiki jalan. Entah tidak mampu atau tidak mau. Karena banyak
juga koq yang punya mobil di perumahan bersubsidi tersebut. Memang inilah suatu moral hazard
dengan diadakannya barang bersubsidi di Indonesia. Yang menikmati bukanlah yang berhak.

Singkat cerita, setelah survei beberapa kali di daerah Sepatan, kami mencoret daerah tersebut dalam
daftar daerah perumahan kami. Harga perumahan yang tidak bersubsidi ternyata sudah cukup tinggi
di sana, sedangkan yang bersubsidi sedang dihentikan pembangunannya, mungkin dikarenakan
adanya moral hazard itu tadi, atau dikarenakan harga tanah yang dijadikan harga dasar perumahan
sudah terlampau tinggi pula. Dan pula, ternyata jauh sekali jarak dari perumahan ke stasiun. Duh, nasib. Lalu kapan kami punya rumah?

Setelah kami berdoa, berharap, dan terus menggali informasi, ada yang langsung mengambil
perhatian saya, yaitu perumahan tanpa riba. Perumahan ini tidak menggunakan bank sebagai
pembiayanya, melainkan kita langsung mencicil kepada pemilik dari perumahan tersebut. Woww...
Berani sekali ya pemiliknya? Apakah berarti pemiliknya seorang konglomerat ya?
Oke, untuk mengobati rasa penasaran, maka hanya ada satu cara: survei!
Eh, tapi lokasinya dimana? Ternyata lokasinya di Parung Panjang. Seperti yang saya katakan di awal
tadi, saya sungguh tidak tahu daerah ini. Yang saya sering dengar hanyalah parung, tidak pakai
panjang. Menurut informasi yang ada, lokasinya hanya 55 menit dari jakarta demgan kereta
komuter, yang kalau diartikan maka, dari Parung Panjang ke Tanah Abang waktunya 55 menit. Yah,
lumayan lah. Kalau dari daerah depok-bogor ke pusat jakarta juga bakal butuh waktu selama itu. Oke, jadilah kita survei.

Perjalanan dari Tanah Abang memang benar membutuhkan waktu sekitar 55 menit, dan sepanjang
jalan setelah lewat stasiun Serpong, masih banyak suasana pedesaan, dan tanah kosong. Wow,
apakah ini antah berantah? Kami memang tidak mengharap terlalu banyak soal Parung Panjang, itu
pasti daerah yang masih belum berkembang, dan yah, pasti tidak seramai daerah Citayam. Namun
apa yang membuat kami tetap saja mau survey kesana?
Ah, saya pikir tulisan ini sudah terlalu panjang, mungkin akan saya penggal sampai sini dulu.
Mengenai seperti apa parung panjang, dan bagaimana pertimbangan saya setelah melihat
prospeknya, akan saya ceritakan di tulisan berikutnya . Oke... Mohon maaf ya. Hehe..

Komentar

Postingan populer dari blog ini

Ujian layaknya sebuah film

Saya sudah sering tahu kalau anak saya bakal ujian. Reaksi saya selalu "all is well", saya selalu yakin anak saya bisa melalui semua ujian di sekolah, karena tentu saja istri saya sudah menjadi fasilitator ulung bagi Si Palung. Masalahnya, kali ini saya harus menontonnya ujian langsung. Saya harus menonton anak saya berhadapan dengan gurunya, untuk menunjukkan seberapa hapalnya dia dengan Juz 30. Ujian tasmi' istilahnya.  Dalam sebuah film, selalu ada bagian mengenai hal apa saja yang menjadi latar belakang konflik. Pada bagian ini, penonton masih bisa santai. Selanjutnya, sebelum bagian latar belakang ini masuk ke segmen konfliknya, penonton akan disuguhkan dengan adegan-adegan yang bisa jadi mendebarkan, atau bisa jadi bikin kesal, sampai-sampai kalau bisa skip aja nonton bagian ini. Langsung aja ke inti konfliknya, ke bagian paling seru. Nah, pengalaman menonton ujian ini, buat aaya serupa nonton film. Di surat-surat awal anak saya lancar saja melantunkan hapalannya. L...

Sampai jumpa kembali...!

Alhamdulillah, saya patut bersyukur bahwa selama saya masuk di dunia kerja, saya bertemu dengan para atasan langsung yang luar biasa. Dedikasi dan kapabilitasnya sungguh sangat menginspirasi saya. Namun sebagaimana statistik, selalu saja ada pencilan. Harap dimaklumi.  Wawasan saya tentang atasan paling baik hanya terbatas pada Bu Evi Karmilah. Beliau adalah seorang veteran di bidang migas. Kalau tak salah dari pertama penempatan sampai jadi Kasi, beliau selalu di migas. Bukti kehebatan beliau adalah, beliau lah yang merancang hampir semua kertas kerja migas sampai akhirnya dilakukan penyesuaian oleh veteran lainnya, yaitu mas Yudi. Hidup yang terus bergerak maju akhirnya mengharuskan saya menembus batasan wawasan saya. Ternyata ada Kasi yang lebih hebat dari Bu Evi. Jika saja beliau mempunyai waktu yang sama dengan Bu Evi, saya yakin pengetahuan beliau akan melampaui Bu Evi. Tipe bekerjanya mirip, kecepatan pemahaman akan hal baru sangat cepat, biarpun tidak sampai sedetil Bu Evi....

Bisa-bisanya Dia Begitu

Bisa-bisanya aku tak dipilih olehnya. Padahal dalam banyak hal aku ini unggul. Dia malah pilih yang lebih muda darinya, badboy gadungan, tukang contek, dan tidak lebih tampan dariku.  Untuk urusan umur, boleh jadi aku dan laki-laki itu sama mudanya. Dari orang-orang seangkatanku, aku ini setahun lebih muda. Aku terlalu cepat masuk SD setahun. Kenyataannya, laki-laki itu hanya berada satu tingkat di bawahku. Kalau memakai standar umur normal, aku harusnya sekelas dengan lelaki itu. Oh, boleh jadi laki itu juga lebih cepat masuk SD setahun. Alah, dari mukanya tidak mungkin! Bahkan secara tampilan muka dia terlihat lebih tua dariku.  Urusan badboy silakan tentukan, lebih badboy mana antara anggota ekskul futsal dan anggota ekskul band? Orang bermain futsal itu untuk olahraga, badannya pada sehat, larinya kuat. Untuk lebih kuat lari lagi, sudah barang tentu mereka tidak merokok. Bandingkan dengan aku yang anak band. Bandku ini dibentuk untuk memberontak dan mendobrak nilai-nilai m...