Langsung ke konten utama

Pemimpin itu...

lima nama yang saya idolakan sebagai pemimpin.

1. Tan Malaka
Tan malaka adalah seorang pemberani dan seorang pemimpin pergerakan yang revolusioner. Bisa dibilang, saat itu Tan Malaka adalah seorang pemberontak yang sebenar-benarnya, karena sangat berani memperjuangkan nilai-nilai yang sangat dia yakini. 

Dalam hal patriotisme, Tan Malaka adalah inspirasi saya. Karir pergerakan Tan Malaka dimulai dari pengalamannya saat menjadi guru bagi para buruh tebu. Tan Malaka kala itu tak mampu menahan amarahnya atas perlakuan tidak adil Belanda terhadap kaum pribumi. Berawal dari itu, Tan Malaka berusaha untuk terus melawan penjajahan Belanda dengan memperjuangkan kemerdekaan Indonesia seratus persen.

Dalam kehidupan pergerakannya, Tan Malaka bergabung dengan Partai Komunis Hindia yang kala itu berjalan dengan seadanya. Singkat cerita, Tan Malaka berhasil membuat Partai Komunis diperhitungkan Pemerintah Hindia Belanda sebagai partai pergerakan yang berbahaya.

Tan Malaka terus meyakini bahwa manusia tidak boleh diperlakukan berbeda, suatu nilai yang Ia pelajari waktu sekolah tinggi ke Belanda kala itu. Maka dipicu oleh rasa ketidakadilan yang Ia lihat sendiri, rasa empatinya, rasa amarahnya, dia ubah menjadi energi untuk terus melawan Belanda.

Tan Malaka mungkin, bisa dikatakan seorang pemimpin pergerakan yang paling sengsara dibanding pemimpin lain. Karena pergerakannya yang berhasil membesarkan Partai Komunis kala itu, Ia sempat dicari, bukan saja oleh pemerintah Belanda, namun juga oleh pemerintah Amerika Serikat, Inggris, dan Perancis. Hal ini menyebabkan dia harus melarikan diri ke Rusia, untuk membuka mata dunia atas apa yang terjadi di Indonesia. Ia juga melarikan dirinya ke Jepang, Macau, Filipina, Vietnam, sebelum akhirnya dia bisa kembali ke Indonesia.

Sepulangnya ke Indonesia, perjuangannya tak pernah surut untuk kemerdekaan Indonesia. Pengasingan dan pelarian yang telah dilaluinya tidak artinya baginya, dibandingkan kemerdekaan Indonesia, walaupun pada akhirnya dia harus meninggal di tangan bangsanya sendiri.


2. Bung Hatta
Saya sangat mengagumi Bung Hatta karena dedikasinya, kedisiplinannya, serta keteraturannya. Saya pernah membaca bukunya. Saya menduga bahwa buku yang Ia tulis berasal dari buku hariannya. Dalam buku itu, Bung Hatta benar-benar memperhatikan urutan waktu, dan sangat disiplin jika dia sudah membuat rencana.

Bung Hatta mengajarkan saya nilai-nilai integritas, kesederhanaan, dan kedisplinan. Membaca buku Bung Hatta bisa jadi membuat kita bosan, karena Bung Hatta benar-benar menulis secara detail waktu ia mengerjakan sesuatu. Contohnya, pada jam 08.00 Bung Hatta pergi sarapan, pada pukul 09.00 Ia pergi ke sebuah pertemuan, kemudian jam 11.15 Bung Hatta harus bertemu dengan orang pergerakan lainnya lagi. Begitu terus, banyak bagian dari buku itu yang berisi tentang keterangan waktu. Bagi saya, ini menggambarkan Bung Hatta sangat disiplin hingga dia bisa mengatur waktunya untuk banyak hal yang mendatangkan manfaat.

Bung Hatta adalah seorang nasionalis sejati. Bung Hatta selalu berusaha untuk mencari solusi yang terbaik yang bisa menjadikan semua pihak menerima solusi itu , yang merupakan solusi terbaik bagi bangsa dan negara. Musyawarah mufakat, mungkin itu kata yang tepat untuk menggambarkan suasana pengambilan solusi ala Bung Hatta.

Dalam dunia pergerakan, Bung Hatta juga melakukan kaderisasi untuk anggota perhimpunannya. Berbanding terbalik dengan Sukarno yang memakai sosok figur untuk menyatukan masa. Berkaitan dengan ini, maka bisa dibilang bahwa Bung Hatta adalah sosok pemimpin yang melahirkan pemimpin baru.


3. Dave Grohl
Dave grohl adalah seorang musisi yang bangkit dari reruntuhan grup band Nirvana. Dave Grohl sangat tidak mengira bahwa sahabatnya, Kurt Cobain dapat pergi secepat itu. Seketika itu juga, dia jadi ragu akan hidupnya, bagaimana dia akan melanjutkan hidup jika dia tidak bermusik? Namun Dave Grohl berhasil bangkit, dan sekarang bersama grup band Foo Fighters, Ia kembali menemukan hidupnya.

Dave Grohl sangat suka musik. Bahkan dia sengaja meninggalkan bangku sekolahnya untuk sebuah audisi grup band di kotanya. Maka saat akhirnya Dave Grohl bermain untuk Nirvana, Dia bermain dengan sangat gembira, Ia menabuh drum dengan penuh passion. Tabuhannya membuat musik Nirvana menjadi sangat hidup. Mungkin saat itu, di pikiran Dave Grohl dia akan bermain musik selamanya, dia akan bergembira selamanya. Namun ternyata Kurt Cobain, sang pendiri Nirvana ditemukan meninggal bunuh diri.

Dave Grohl tidak mau menyerah dengan keadaan. Dia boleh bersedih dengan kematian sahabatnya, tapi dia tidak akan menyerah dan terus berusaha untuk bangkit dari keterpurukannya. Ia tidak memutuskan berhenti. Dave Grohl hanya ingin bermusik. Dia tahu Dia sangat baik soal itu, maka dengan rasa percaya dirinya dia berhasil membuat grup bandnya sendiri dengan nama Foo Fighters yang kesuksesannya mungkin bisa disandingkan dengan Nirvana.

Dalam kesedihannya, Dave Grohl memutuskan untuk merekam sendiri lagu-lagu yang pernah ia ciptakan, namun belum pernah dipublikasikan untuk Nirvana. Ia menyewa sebuah studio lalu mulai merekam sendiri lagu-lagunya. Ia menjadi vokalis, kemudian memainkan drum, kemudian gitar, lalu bass, semua ia mainkan sendiri lalu ia satukan dengan proses mixing.

4. Barney Ross
Dalam satu adegan, Barney Ross, yang diperankan Sylvester Stallone, berjalan bersama Galgo, yang diperankan oleh Antonio Banderas. Saat adegan itu, Galgo bercerita panjang lebar tentang sebuah misi yang sangat berarti untuknya. Galgo bercerita tanpa henti sepanjang perjalanan, bagi para penonton, karakter Galgo saat itu sangatlah membuat kesal. Tapi di akhir adegan itu, ternyata Barney Ross berkata bahwa dia memperhatikan setiap detail cerita Galgo, dan yang daritadi diceritakan oleh Galgo bukanlah orang lain. Galgo mengganti setiap nama tokoh dalam ceritanya, padahal tokoh dalam cerita Galgo adalah para sahabatnya yang gugur dalam sebuah misi.

Barney Ross adalah seorang pensiunan korps marinir Angkatan Laut Amerika Serikat. Sebelum dia membentuk tim yang diberi nama The Expendables, dia adalah seorang yang tak kenal lelah berlatih. Karena Barney Ross adalah seorang tokoh fiksi, yang karakternya adalah hasil rekaan, maka saya tidak tahu persis seperti apa pembangunan karakter yang dia lalui. Yang pasti dalam film itu, Barney Ross adalah seorang pemimpin yang hebat, dia berani mengambil resiko dan tidak pernah mau mengorbankan timnya. Hal yang benar-benar menginspirasi saya adalah kemauannya untuk terus mendengar cerita si Galgo. Walaupun Galgo membuat kesal, namun Ia terus memperhatikan, sampai pada akhirnya Galgo menujukkan rasa hormat kepada Barney Ross. Bagi saya, pemimpin yang baik adalah yang mau mendengarkan orang yang dipimpinnya.


5. Bapak
Jika ada yang mengatakan bahwa pemimpin memengaruhi orang lain dengan perbuatan bukan hanya kata-kata, maka pikiran saya langsung tertuju kepada Bapak.

Ada yang berkata bahwa yang terakhir seringkali dilupakan, karena itu berarti dia adalah alternatif terakhir. Namun saya menganut bahwa yang terbaik biasanya diakhirkan untuk memberikan kesan yang lebih mendalam.

Orang ini adalah Bapak saya, yang telah bekerja keras untuk keluarga kami. Jauh sebelum saya mengenal orang-orang di atas, saya lebih dulu ingin menjadi seperti Bapak, karena darinya lah saya belajar arti tanggung jawab, arti bekerja keras.

Bapak hanya lulusan SMP. Kala itu, di kampungnya, lulus SMP sudah merupakan suatu prestasi sendiri. Oleh Kakek, Bapak diberi pesan untuk sekolah, biar nasib berubah. Namun mungkin nasib hanya memberikan kesempatan Bapak untuk sekolah sampai SMP.  Nasib juga telah mengubah Bapak yang tadinya hanya berkutik di ladang, menjadi pekerja di kota besar, biarpun hanya sebagai buruh.

Dari tangan kasar buruh itulah kami hidup. Saya pernah ikut Bapak bekerja, saya melihat bagaimana Bapak mengangkat pintu besi, bagaimana peluh mengucur di tubuhnya. Sewaktu perjalanan pulang, Bapak menggendong saya yang sudah lelah “menemaninya” bekerja.

Waktu saya ingin melanjutkan pendidikan ke jenjang SMA, Bapak menyerahkan pilihan kepada saya, walaupun itu artinya Bapak harus lebih giat bekerja. Sekolah pilihan saya waktu itu adalah sekolah unggulan dan arti dari unggulan adalah biayanya yang mahal. Bapak menyanggupinya, yang penting saya sekolah, apalagi di sekolah unggulan, biar nasib saya berubah.

Bapak tidak memiliki kemampuan akademis, Bapak juga tidak memiliki kemampuan untuk bertutur kata secara lembut. Kadang diksi yang dipakainya serupa dengan yang dipakai orang-orang jalanan Jakarta lainnya. Tapi Bapak, dengan kerja kerasnya mampu membuat saya ingin menjadi seperti dirinya. Tanpa disuruh pun, saya akan tetap menghormati Bapak, dalam konteks Bapak sebagai pemimpin. Karena di tempat kerja pun Bapak adalah orang yang dihormati walaupun Bapak tidak punya jabatan apa-apa. Sangat jelas bagi saya bahwa Bapak adalah seorang leader that lead by example.

Komentar

Postingan populer dari blog ini

Ujian layaknya sebuah film

Saya sudah sering tahu kalau anak saya bakal ujian. Reaksi saya selalu "all is well", saya selalu yakin anak saya bisa melalui semua ujian di sekolah, karena tentu saja istri saya sudah menjadi fasilitator ulung bagi Si Palung. Masalahnya, kali ini saya harus menontonnya ujian langsung. Saya harus menonton anak saya berhadapan dengan gurunya, untuk menunjukkan seberapa hapalnya dia dengan Juz 30. Ujian tasmi' istilahnya.  Dalam sebuah film, selalu ada bagian mengenai hal apa saja yang menjadi latar belakang konflik. Pada bagian ini, penonton masih bisa santai. Selanjutnya, sebelum bagian latar belakang ini masuk ke segmen konfliknya, penonton akan disuguhkan dengan adegan-adegan yang bisa jadi mendebarkan, atau bisa jadi bikin kesal, sampai-sampai kalau bisa skip aja nonton bagian ini. Langsung aja ke inti konfliknya, ke bagian paling seru. Nah, pengalaman menonton ujian ini, buat aaya serupa nonton film. Di surat-surat awal anak saya lancar saja melantunkan hapalannya. L...

Sampai jumpa kembali...!

Alhamdulillah, saya patut bersyukur bahwa selama saya masuk di dunia kerja, saya bertemu dengan para atasan langsung yang luar biasa. Dedikasi dan kapabilitasnya sungguh sangat menginspirasi saya. Namun sebagaimana statistik, selalu saja ada pencilan. Harap dimaklumi.  Wawasan saya tentang atasan paling baik hanya terbatas pada Bu Evi Karmilah. Beliau adalah seorang veteran di bidang migas. Kalau tak salah dari pertama penempatan sampai jadi Kasi, beliau selalu di migas. Bukti kehebatan beliau adalah, beliau lah yang merancang hampir semua kertas kerja migas sampai akhirnya dilakukan penyesuaian oleh veteran lainnya, yaitu mas Yudi. Hidup yang terus bergerak maju akhirnya mengharuskan saya menembus batasan wawasan saya. Ternyata ada Kasi yang lebih hebat dari Bu Evi. Jika saja beliau mempunyai waktu yang sama dengan Bu Evi, saya yakin pengetahuan beliau akan melampaui Bu Evi. Tipe bekerjanya mirip, kecepatan pemahaman akan hal baru sangat cepat, biarpun tidak sampai sedetil Bu Evi....

Bisa-bisanya Dia Begitu

Bisa-bisanya aku tak dipilih olehnya. Padahal dalam banyak hal aku ini unggul. Dia malah pilih yang lebih muda darinya, badboy gadungan, tukang contek, dan tidak lebih tampan dariku.  Untuk urusan umur, boleh jadi aku dan laki-laki itu sama mudanya. Dari orang-orang seangkatanku, aku ini setahun lebih muda. Aku terlalu cepat masuk SD setahun. Kenyataannya, laki-laki itu hanya berada satu tingkat di bawahku. Kalau memakai standar umur normal, aku harusnya sekelas dengan lelaki itu. Oh, boleh jadi laki itu juga lebih cepat masuk SD setahun. Alah, dari mukanya tidak mungkin! Bahkan secara tampilan muka dia terlihat lebih tua dariku.  Urusan badboy silakan tentukan, lebih badboy mana antara anggota ekskul futsal dan anggota ekskul band? Orang bermain futsal itu untuk olahraga, badannya pada sehat, larinya kuat. Untuk lebih kuat lari lagi, sudah barang tentu mereka tidak merokok. Bandingkan dengan aku yang anak band. Bandku ini dibentuk untuk memberontak dan mendobrak nilai-nilai m...